MUSIM SEMI YANG BISU dan SDGs DESA

Ada dua hal utama yang jadi pemicu munculnya kesadaran kolektif manusia modern di dunia, untuk melaksanakan pembangunan dengan tetap memperhatikan keseimbangan alam, yang kemudian dikonsepkan sebagai Sustainable Development atau pembangunan berkelanjutan, yaitu SILENT SPRING dan KTT BUMI di RIO.

SILENT SPRING adalah sebuah buku yang ditulis oleh Rachel Carson yang diterbitkan pada tahun 1962. Kalau diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia menjadi Musim Semi yang Bisu. Buku yang ditulis mulai tahun 1950-an akhir itu diawali dengan sebuah kisah ilustrasi tentang datangnya musim semi yang tidak biasa. (Untuk lebih detil tentang buku ini penulis sarankan untuk membaca buku aslinya atau minimal membaca resume buku tersebut, seperti di sini)

Pada wilayah bumi yang memiliki empat musim, musim semi adalah musim yang ditungggu-tunggu. Setelah sekian lama permukaan bumi diselimuti oleh salju pada musim dingin (winter), tumbuh-tumbuhan akan kembali mulai ditumbuhi daun dan bunga-bunga pun bermekaran, hewan-hewan mulai keluar dari sarang setelah melakukan hibernasi, dan hujan pun mulai turun dengan teratur untuk memberi kehidupan. Pada musim semi, petani pun mulai menanam. Musim semi adalah musim untuk kehidupan (baru) yang menggairahkan.

Tapi dalam SILENT SPRING, diilustrasikan kalau musim seminya tidak lagi memberi gairah. Daun-daun muda tidak lagi bertumbuh dari dahan, bunga-bunga tidak lagi bermekaran, tidak ada lagi buruung yang berkicau, kupu-kupu pun lenyap. Musim semi yang biasanya meriah berubah menjadi sunyi.

Dalam bagian lanjutan dari buku tersebut, Rachel Carson kemudian memaparkan tentang produksi pestisida sintesis yang naik 5 kali lipat pada tahun 1960, dibandingkan dengan produksi pada tahun 1947. Peningkatan produksi dan pemakaian pestisida sintesis inilah yang dikatan oleh Rachel Carson sebagai penyebab sunyinya musim semi, yang seharusnya meriah dan memberi harapan. Rachel Carson memberi nama baru untuk pestisida sebagai BIOSIDA.

Pestisida yang harusnya untuk membasmi hama dan serangga penggangu produksi pertanian, karena dipakai secara berlebihan tanpa terkendali, justru menjadi pembasmi kehidupan.

Pada saat awal setelah diterbitkan, buku ini kemudian menuai perdebatan. Kondisi masyarakat Amerika Serikat, yang waktu itu sudah modern dalam teknologi tapi masih konservatif dalam pemikiran, membawa isyu SILENT SPRING ke perdebatan dan penolakan yang sangat tidak cerdas dan intelek. Para penolak SILENT SPRING bukannya memberikan argumentasi ilmiah dan logis untuk menyanggah Rachel Carson, tapi justru mempersoalkan gelar akademis dan jenis kelamin si penulis.

Tapi di kalangan intelektual dan pemikir, SILENT SPRING justru menjadi lecutan untuk bersikap. Efeknya adalah bermunculannya lembaga-lembaga pemerhati lingkungan. Pada tahun 1968, dilaksanakanlah Konferensi Lingkungan Hidup di Amerika Serikat, yang mengambil tema The Careless Technology atau kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia setara dengan “Teknologi yang Tidak Peduli”.

Setelah konferensi lingkungan 1968 tersebut, kemudian muncul banyak konferensi-konferensi lain, yang melibatkan banyak negara dan dilaksanakan oleh PBB. Kesadaran umat manusia akan masalah lingkungan hidup pun semakin meningkat dan meluas. Aktivis-aktivis lingkungan pun mulai lahir, dengan sikap dan caranya masing-masing untuk menyuarakan perlunya manusia menjaga lingkungan dan berhenti memangsa bumi dengan sangat rakus hanya untuk kepentingan ekonomi semata.

KTT Bumi di Rio

Pada 1992, di Rio De Jenairo, Brazil, dilaksanakanlah sebuah pertemuan tingkat tinggi yang dilaksanakan oleh PBB. Pertemuan yang mengambil tema tentang Lingkungan dan Pembangunan tersebut dikenal dengan nama Konferensi Tingkat Tinggi Bumi atau KTT Bumi.

KTT Bumi di Rio ini menghasilkan lima dokumen, seperti yang disimpulkan oleh Saifullah dalam Paradigma Pembangunan Lingkungan Hidup di Indonesia, yaitu:

  1. Deklarasi Rio tentang Pembangunan dan Lingkungan, dengan 27 asas yang menetapkan hak dan tanggungjawab bangsa-bangsa dalam memperjuangkan perkembangan dan kesejahteraan manusia.
  2. Agenda 21: Program Kerja Aksi PBB dari Rio, sebuah rancangan tentang cara mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dari segi sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup.
  3. Konvensi tentang Perubahan Iklim. Tujuan kerangka Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim ialah menstabilkan gas-gas rumah kaca dalam atmosfer pada tingkatan yang tidak akan mengacaukan iklim global. Ini mensyaratkan pengurangan emisi gas seperti karbondioksida, yaitu hasil sampingan dari pemakaian bahan bakar untuk mendapatkan energi.
  4. Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati. Negara-negara dikehendaki untuk mengerahkan segala daya dan dana untuk melestarikan keragaman spesies-spesies hidup, dan mengupayakan agar manfaat penggunaan keragaman-hayati dirasakan secara merata.
  5. Pernyataan tentang Prinsip Kehutanan. Pernyataan tentang prinsip-prinsip yang menjadi pedoman bagi pengelolaan, pelestarian, dan Pembangunan semua jenis hutan secara berkelanjutan, yang merupakan unsur mutlak bagi pembangunan ekonomi dan pelestarian segala bentuk kehidupan.

Intelektual Indonesia yang banyak memberikan pandangan dalam KTT BUMI di Rio ini adalah Prof. Otto Soemarwoto. Demikian menurut penuturan Prof. Oekan S. Abdullah dalam berapa pertemuan perkuliahan Antropologi Ekologi dan Antropologi Pembangunan, yang mana saya menjadi salah satu mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tersebut.

Efek positif lanjutan dari SILENT SPRING dan KTT BUMI di RIO adalah mulai munculnya banyak mata kuliah yang membahas tentang Pembangunan dan Lingkungan. Di Universitas Padjadjaran, Bandung, misalnya: selain dibentuknya Lembaga Ekologi Unpad, materi perkuliahan pun banyak yang mulai membahas tema ini. Di jurusan Antropologi Unpad tercatat ada 2 (dua) mata kuliah yang paling banyak menindaklanjuti pemikiran-pemikiran dari KTT BUMI di Rio tersebut, yaitu Mata Kuliah Antropologi Ekologi dan Antropologi Pembangunan. Pada dua mata kuliah tersebut, kearifan ekologi kultural (kearifan lokal) kebudayaan-kebudayaan masyarakat di Indonesia pun coba digali dan ditelaah dengan lebih mendalam. Demikian juga di program studi dan perguruan tinggi yang lain.

Kesadaran manusia tentang pentingnya menjaga lingkungan sambil tetap membangun, tidak hanya berhenti di kampus saja, tapi juga mulai dilaksanakan dalam pelaksanaan pembangunan. Dalam bidang bangunan fisik, para ilmuan dan praktisi ilmu teknik mulai menjadikan arsitektur dalam kebudayaan sebagai referensi. Dalam kajian antropologi, banyak kebudayaan masyarakat yang sudah cukup lama hidup dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan. Sebuah kearifan ekologi kultural yang sempat dianggap kuno, terbelakang, tertinggal, bahkan primitif, sebuah anggapan sesat yang diakibatkan oleh kesombongan dan ketidaktahuan orang-orang yang merasa dirinya modern, tapi tidak pernah berpikir. Misalnya, ketika membangun di daerah yang miring, bukan tanahnya yang dipapas agar rata, tapi arsitektur bangunannya yang disesuaikan dengan kontur tanah. Dalam bidang pertanian semangat ini lebih terasa lagi, gerakan GO GREEN dan GO ORGANIC yang mulai bergaung di periode tahun 2000-an awal adalah salah satu contoh.

Pada kondisi kekinian, desa pun mulai diajak untuk mulai berpikir, berbuat, dan bertindak dalam pelaksaan pembangunan yang tetap menjaga keselarasan dengan lingkungan. Salah satu bentuknya adalah munculnya konsep SDGs Desa. Lebih lanjut mengenai SDGs Desa silahkan baca di sini dan di sini (SOBIRIN/Gadung.desa.id)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan